Minggu, 26 September 2010

gris

Suka Membodohkan Orang, Tanda Ilmu Tak Bermanfaat

E-mail Print PDF
Seyogyanya kita selalu melihat ke dalam diri kita sendiri dan tidak sibuk menghakimi orang lain

Hidayatullah.com--Suatu saat beberapa sahabat Al Hasan Al Bashri menyebutkan beberapa definisi tawadhu’, namun beliau diam saja. Saat definisi semakin banyak disebut, beliau mengatakan,”Aku menilai kalian telah banyak menyebut apa itu tawadhu’.”

Akhirnya mereka balik bertanya, “Apa tawadhu’ itu menurut Anda?”

Al Hasan Al Bashri menjawab, “Seorang keluar dari rumahnya, maka ia tidak bertemu seorang Muslim, kecuali mengira bahwa yang ditemui itu lebih baik dari dirinya.” (Az Zuhd, hal. 279)

Apa yang disebutkan Al Hasan Al Bashri mirip dengan nasihat Imam Al Ghazali mengenai tawadhu’. Beliau mengetakan,”Janganlah engkau melihat kepada seseorang kecuali engkau menilai bahwa ia lebih baik darimu. Jika melihat anak kecil, engkau mengatakan,’Ia belum bermaksiat kepada Allah sedangkan aku telah melakukannya, maka ia lebih baik dariku’. Jika melihat orang yang lebih tua, engkau mengatakan, ‘Orang ini telah melakukan ibadah sebelum aku melakukannya, maka tidak diragukan bahwa ia lebih baik dariku.’ Dan jika ia melihat orang alim (pandai), maka ia berkata,’Ia telah diberi Allah ilmu lebih dibanding aku dan telah sampai pada derajat yang aku belum sampai kepadanya.’ Kalau ia melihat orang bermaksiat, ia berkata, “Ia melakukannya karena kebodohan, sedangkan aku melakukannya dan tahu bahwa perbuatan itu dilarang. Maka, hujjah Allah kepadaku akan lebih kuat.’” (Maraqi Al Ubudiyah, hal. 79)

Maka seyogyanya kita selalu melihat ke dalam diri kita sendiri dan tidak sibuk menghakimi orang lain, karena disamping bisa jadi sebenarnya mereka lebih baik dari kita, hal demikian bisa menimbulkan sifat ujub.

Sebab itulah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan,” Jika seorang laki-laki berkata ‘manusia telah celaka’, maka ialah yang paling celaka.” (Riwayat Muslim)

Imam Al Khattabi menjelaskan bahwa kemungkinan orang yang mengatakan demikian menimbulkan sifat ujub kepada dirinya dan menilai bahwa pada manusia sudah tidak terdapat sifat kebaikan. Dan merasa bahwa dirinya lebih baik dari mereka. Maka pada hakikatnya, orang ini telah celaka. (lihat, Al Adzkar, hal. 574)

Imam Malik pun berpendapat bahwa kalau pelakunya mengatakan hal demikian karena ujub dan meremehkan manusia terhadap dien mereka, maka itu hal yang dibenci dan yang terlarang. Namun jika mengatakannya karena merasa prihatin, maka hal itu tidak mengapa. (lihat, Al Adzkar, hal. 575)

Tanda-tanda Ilmu Bermanfaat

Salah satu hal yang menyebabkan seseorang rawan kehilangan sifat tawadhu’nya adalah ilmu yang dimiliki. Karena merasa memiliki ilmu, terkadang seseorang dengan mudah membodoh-bodohkan manusia. Sebab itulah Al Hafidz Ibnu Rajab dalam karya beliau, Fadhl Ilmi As Salaf ala Ilmi Al Khalaf, memberi penekanan khusus tentang hal ini.
Beliau mengatakan, ”Adapun tanda-tanda ilmu tidak bermanfaat adalah, seseorang tidak memiliki kesibukan kecuali takabbur dengan ilmunya di hadapan manusia. Dan menunjukkan kelebihan ilmunya kepada mereka. Serta merendahkan meraka, untuk meninggikan posisinya terhadap mereka. Ini merupakah hal yang terburuk dan paling menjijikkan dari yang diperoleh. Bisa jadi ia menisbatkan para ulama sebelumnya sebagai dengan kebodohan, kelalaian dan kealphaan.”

Kemudian beliau mengatakan, ”Adapun tanda-tanda ilmu bermanfaat adalah suudzan terhadap diri sendiri dan husnudzan terhadap para ulama sebelumnya. Mengakui dalam hati dan jiwa terhadap kelebihan para ulama sebelum mereka dibanding dirinya dan ketidakmampuannya menyamai posisi mereka untuk sampai atau mendekati derajat mereka.” (lihat, Shafhat min Shabri Al Ulama, hal. 378)

Mudah-mudahan kita semua dianugerahi sifat-sifat tawadhu’ dan dijauhkan dari sifat-sifat tercela seperti kibr dan ujub, hingga tercatat sebagai dalam golongan orang-orang yang ilmunya bermanfaat. [tho/hidayatullah.com]

trenff

IDI: Sudah Saatnya Pendidikan Seks Masuk Kurikulum

E-mail Print PDF
Pendidikan organ reproduksi seharusnya lebih gencar lagi dilakukan di sekolah-sekolah

Hidayatullah.com--Pendidikan seks sudah saatnya menjadi bagian kurikulum pendidikan formal bagi remaja, untuk meminimalkan pengaruh budaya seks bebas dan mencegah penyebaran virus HIV.

"Pendidikan seks atau pendidikan organ reproduksi sangat penting karena dapat menjadi perisai bagi remaja di tengah maraknya informasi yang salah tentang seks dan organ tersebut dari berbagai media," kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia Kota Bandarlampung, sekaligus aktivis Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Wilayah Lampung, Dr Boy Zaghul Zaini, di Bandarlampung, Senin.

Dia menjelaskan, usia remaja yang penuh gejolak dan selalu ingin tahu, menimbulkan ketidaksiapan penerimaan mereka terhadap segala masukan tentang organ reproduksi. Sedangkan peran orang tua agak terkesampingkan dalam memberikan informasi yang benar dalam hal tersebut.

"Budaya timur masih menganggap membicarakan hal tersebut tabu dibicarakan antara orang tua dan anak," kata dia.

Pola pembelajaran yang dilakukan, kata Boy, dapat dilakukan dengan cara bimbingan dan tutorial dua arah, serta harus dilakukan oleh orang yang paham tentang organ reproduksi, sekaligus psikologi remaja.

Upaya pertama yang dilakukan adalah menambah jumlah pembimbing yang paham tentang hal tersebut di sekolah-sekolah, melalui pelatihan terpadu oleh tenaga ahli.

"Jumlah petugas penyuluh kita juga masih sangat sedikit, jadi memang perlu penambahan dengan memanfaatkan tenaga lokal di masing-masing sekolah," kata dia.

Rabu, 22 September 2010

magnificent seven

Tujuh Perawi Hadis Terbanyak

E-mail Print PDF
Ada tujuh sahabat Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam (SAW) yang meriwayatkan lebih dari 1.000 hadis semasa hidupnya

Hidayatullah.com--Mereka tercatat sebagai sahabat-sahabat Rasul SAW yang terbanyak meriwayatkan hadis. Ketujuh sahabat tersebut adalah Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu (Ra), Abdullah bin Abbas Ra, Abu Hurairah Ra, Anas bin Malik Ra, Jabir bin Abdullah Ra, Said Al Khudri Ra, dan Sitti Aisyah Ra.

Berikut adalah uraian singkat mengenai ketujuh sahabat Rasulullah Saw tersebut:

Abdullah bin Umar Ra

Ia adalah putra Umar bin Khathab Ra dan saudara kandung Hafshah Ra, isteri Rasul Saw. Tercatat, Abdullah Ra telah meriwayatkan sebanyak 2.630 hadis (jumlah kedua terbanyak setelah Abu Hurairah Ra).

Abdullah sangat setia mengikuti Rasul Saw. Jika Rasul Saw menunaikan shalat, ia bermakmum di belakangnya.

Jika Rasul Saw berdoa dengan berdiri maka Abdullah Ra ikut berdiri dan mengamininya. Bahkan ketika Rasul Saw turun dari unta betina setelah mengelilingi kota Mekah dan menunaikan sholat dua rakaat, Abdullah Ra pun ikut mengitari Mekah dan sholat dua rakaat sesudahnya, sebagaimana yang ia saksikan.

Tak heran jika Ummul Mukminin, Aisyah Ra, berkata, ''Tidak seorang pun sahabat yang setara Ibnu Umar (Abdullah Ra) dalam mengikuti jejak Rasulullah (Saw).''

Abdullah Ra juga sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadis. Ia tak mau meriwayatkan suatu hadis, kecuali yang benar-benar ia ingat huruf demi hurufnya.

Selain itu, Ibnu Umar Ra selalu bangun untuk menunaikan shalat Tahajjut dan memohon ampun di waktu sahur seraya menangis. Setiap kali ia mendengar ayat-ayat tandzir (peringatan) dilantunkan, ia selalu mengeluarkan air mata sebagaimana ayahnya.

Abdullah bin Abbas


Pada usia tujuh tahun Abdullah Ra telah menempel pada Rasulullah Saw bagaikan alis dengan mata. Ia juga biasa dibonceng oleh Rasul Saw ketika berpergian, laksana orang dengan bayangannya. Abdullah Ra bercerita, ''Ketika Rasulullah (Saw) hendak shalat, beliau memberikan isyarat agar aku berdiam di belakangnya. Dan, setelah selesai shalat, beliau menatapku seraya bertanya, 'Mengapa engkau tidak berdiri di sampingku Abdullah (Ra)?' Aku menjawab, 'Karena engkau sangat mulia dalam pandanganku. Aku sangat keberatan berdiri di sampingmu.' Kemudian Rasulullah (Saw) mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, 'Ya Allah, karuniakanlah ilmu yang hak dan hikmah kepadanya,'.''

Doa tersebut ternyata dikabulkan. Putra Abbas bin Abdul Muthalib , pamanda Rasulullah Saw, ini menjadi sosok yang berilmu luas dan ahli fikih yang mendetil.

Sepanjang hidupnya ia telah meriwayatkan sebanyak 1.660 hadis.

generasiku

50 tahun yang akan datang…

Di negeri ini… kita mungkin menemui pusara bapak-bapak yang hari ini sedang mewarnai anak-anak kita. Mereka terbujur tanpa nisan tanpa prasasti, sementara hidangan di surga te­lah menanti. Atau sebaliknya, beribu-ribu monumen berdiri untuk mengenangnya, sementara tak ada lagi kebaikan yang bisa diharapkan. Mereka menjadi berhala yang dikenang dengan perayaan, tetapi tak ada doa yang membasahi lisan anak-anaknya. Na’udzubillahi min dzalik.

Betapa banyak pelajaran yang bertabur di sekeliling kita; dari orang-orang yang masih hidup atau mereka yang sudah tiada. Tetapi betapa sedikit yang kita renungkan.

Kisah tentang KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) yang mengulang-ulang pembahasan tentang Al-Maa’uun hingga menimbulkan pertanyaan dari murid-muridnya, masih kerap kita dengar. Jejak-jejak kebaikan berupa rumah sakit, panti asuhan, dan sekolah-sekolah, masih bertebaran. Tetapi jejak-jejak ruhiyah dan idealismenya yang membuatnya bergerak menata akidah umat ini, rasanya semakin sulit kita lacak.

Tulisan pendiri Nahdlatul ‘Ulama, Hadratusy-Syaikh Hasyim Asy’ari, sahabat dekat KH Ahmad Dahlan, masih bisa kita lacak, meski semakin langka. Tetapi jejak-jejak ruhiyah dan idealismenya semakin sulit ditemukan. Apa yang dulu diyakini haram oleh Hadratusy-Syaikh, hari ini justru dianggap wajib oleh mereka yang merasa sebagai pengikutnya.

Apa artinya? Iman tidak kita wariskan, kecuali kalau hari ini kita didik mereka dengan sungguh-sungguh untuk mencintai Tuhannya. Keyakinan, cara pandang, dan idealisme juga tidak bisa kita wariskan ke dalam dada mereka kalau hari ini kita hanya sibuk memikirkan dunianya. Bukan akhiratnya. Atau kita persiapkan mereka menuju akhirat, tetapi kita bekali dengan kekuatan, keterampilan, dan ilmu untuk memenangi hidup di dunia dan menggenggamnya. Betapa banyak anak yang dulu rajin puasa Senin-Kamis, tetapi ketika harus bertarung melawan kesulitan hidup, yang kemudian Senin-Kamis adalah imannya. Kadang ada, kadang nyaris tak tersisa. Na’udzubillahi min dzaalik.

Teringatlah saya dengan perkataan Nabi Ya’qub ‘alaihis-salaam saat menghadapi sakaratul maut. Allah mengabadikannya dalam Surat Al-Baqarah ayat 133:

“Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’”
Ya, “Maa ta’buduuna min ba’diy?(Apakah yang akan kalian sembah sepeninggalku?)” Bukan, “Maa ta’kuluuna min ba’diy? (Apakah yang akan kalian makan sesudah aku tiada?)”

Lalu, seberapa gelisah kita hari ini? Apakah kita sibuk memperbanyak tabungan agar kelak mereka tidak kebingungan cari makan sesudah kita tiada? Ataukah kita bekali jiwanya dengan tujuan hidup, visi besar, semangat menyala-nyala, budaya belajar yang tinggi, iman yang kuat dan kesediaan untuk berbagi karena Allah?

Kita hidupkan jiwanya dengan memberi bacaan yang bergizi, nasihat yang menyejukkan hati, dorongan yang melecut semangat, tantangan yang menggugah, dan dukungan di saat gagal sehingga ia merasa kita perhatikan. Kita nyalakan tujuan hidupnya dengan mengajarkan mereka untuk mengenal Tuhannya. Kita bangun visi besar mereka dengan menghadirkan kisah orang-orang besar sepanjang sejarah; orang-orang shalih yang telah memberi warna kehidupan, sehingga mereka menemukan figur untuk dipelajari, dikagumi, dan dicontoh.

50 tahun mendatang anak-anak kita, hari inilah menentukannya. Semoga warisan terbaik kita untuk mereka adalah pendidikan yang kita berikan dengan berbekal ilmu dan kesungguhan. Kita antarkan pesan-pesan itu dengan cara yang terbaik. Sementara doa-doa yang kita panjatkan dengan tangis dan airmata, semoga menggenapkan yang kurang, meluruskan yang keliru, menyempurnakan yang sudah baik dan di atas semuanya, kepada siapa lagi kita meminta selain kepada-Nya?

Ya Allah, ampunilah aku yang lebih sering lalai daripada ingat, yang lebih sering zhalim daripada adil, yang lebih sering bakhil daripada berbagi karena mengharap ridha-Mu, yang lebih banyak jahil daripada mengilmui setiap tindakan, yang lebih banyak berbuat dosa daripada melakukan kebajikan....

Ya Allah Yang Menggenggam langit dan bumi.... Kalau sewaktu-waktu Engkau cabut nyawaku, jadikanlah ia sebagai penutup keburukan dan pembuka kebaikan. Kalau sewaktu-waktu Engkau cabut nyawaku, jadikan ia sebagai jalan perjumpaan dengan-Mu dan bukan permulaan musibah yang tak ada ujungnya. Jadikan ia sebagai penggenap kebaikan agar anak-anak kami mampu berbuat yang lebih baik untuk agamamu.

Ya Allah, jangan jadikan kami penghalang kebaikan dan kemuliaan anak-anak kami hanya karena kami tak mengerti mereka. Amin.[www.hidayatullah.com]

heaven

Bahagiakanlah, Muliakanlah

Bahagiakanlah mereka, insya Allah di dada mereka akan ada semangat yang menyala-nyala.

Muliakanlah, insya Allah mereka akan memuliakan dan mendengar kata-kata kita.

Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hati diciptakan dengan karakter yang mencintai orang yang memuliakannya dan membenci orang yang menghinakannya.”

Kita bisa belajar dari nasihat Ibnu Mas’ud. Pertama, muliakanlah anak dan bahagiakan mereka, niscaya mereka akan memuliakan kita, mendengar kata-kata kita, dan mengarahkan dirinya untuk menjadi seperti “yang seharusnya”. Bagaimana seharusnya mereka, sangat berkait dengan apa yang kita ajarkan kepada mereka.

Kedua, kenalkanlah kemuliaan Allah, sifat pemurah, dan keagungan Allah yang menciptakan manusia dari segumpal darah, insya Allah mereka akan lebih dekat hatinya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bukan membebani dengan perintah-perintah untuk tunduk kepada-Nya agar mereka disayang dan doa-doa dikabulkan. Sebab, manusia cenderung memuliakan yang memuliakannya. Bukan mengagungkan kepada yang membalasi kebaikannya.

Bukankah Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Menciptakan dan Yang Maha Pemurah pada firman-Nya yang pertama kali turun? “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-‘Alaq: 1-5)

Alhasil, ketika anak-anak kita ajari berdoa, mereka yakin bahwa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tidak sia-sia berdoa kepada Yang Maha Baik. Justru karena mengetahui Allah Maha Pemurah, insya Allah mereka lebih sungguh-sungguh berharap dan meminta.

Sayangnya, selama ini kita lebih sering memperkenalkan Allah dengan cara yang menyeramkan. Kita ajari mereka berbuat baik dan berdoa seolah-olah Allah tidak akan menurunkan rahmat dan nikmat-Nya kecuali setelah kita berbuat baik. Lalu, bagaimana mungkin kita berharap mereka menjadi orang-orang yang bersyukur dan bersungguh-sungguh mengelola hidupnya jika cara awal kita sudah salah?

Astaghfirullahal-‘adziim. Agaknya, banyak sekali kesalahan yang kita lakukan terhadap anak-anak. Agaknya kita perlu meminta keikhlasan mereka untuk memaafkan dan memperbaiki cara kita mendidik, agar kelak mereka tak menyesal mempunyai orangtua seperti kita.

iqra

Iqra’ Bismirabbikal ladzii Khalaq

Sifat Allah yang pertama kali dikenalkan oleh-Nya kepada kita adalah al-Khaliq dan al-Karim, sebagaimana firman-Nya, "Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita berikan kepada anak saat mereka mulai bisa kita ajak berbicara. Pertama, memperkenalkan Allah kepada anak melalui sifat-Nya yang pertama kali dikenalkan, yakni al-Khaliq (Maha Pencipta). Kita tunjukkan kepada anak-anak kita bahwa kemana pun kita menghadap wajah kita, di situ kita menemukan ciptaan Allah. Kita tumbuhkan kesadaran dan kepekaan pada mereka, bahwa segala sesuatu yang ada di sekelilingnya adalah ciptaan Allah. Semoga dengan demikian, akan muncul kekaguman anak kepada Allah. Ia merasa kagum, sehingga tergerak untuk tunduk kepada-Nya.

Kedua, kita ajak anak untuk mengenali dirinya dan mensyukuri nikmat yang melekat pada anggota badannya. Dari sini kita ajak mereka menyadari bahwa Allah Yang Menciptakan semua itu. Pelahan-lahan kita rangsang mereka untuk menemukan amanah di balik kesempurnaan penciptaan anggota badannya. Katakan, misalnya, pada anak yang menjelang usia dua tahun, "Mana matanya? Wow, matanya dua, ya? Berbinar-binar. Alhamdulillah, Allah ciptakan mata yang bagus untuk Owi. Matanya buat apa, Nak?"

Secara bertahap, kita ajarkan kepada anak proses penciptaan manusia. Tugas mengajarkan ini, kelak ketika anak sudah memasuki bangku sekolah, dapat dijalankan oleh orangtua bersama guru di sekolah. Selain merangsang kecerdasan mereka, tujuan paling pokok adalah menumbuhkan kesadaran –bukan hanya pengetahuan—bahwa ia ciptaan Allah dan karena itu harus menggunakan hidupnya untuk Allah.

Ketiga, memberi sentuhan kepada anak tentang sifat kedua yang pertama kali diperkenalkan oleh Allah kepada kita, yakni al-Karim. Di dalam sifat ini berhimpun dua keagungan, yakni kemuliaan dan kepemurahan. Kita asah kepekaan anak untuk menangkap tanda-tanda kemuliaan dan sifat pemurah Allah dalam kehidupan mereka sehari-hari, sehingga tumbuh kecintaan dan pengharapan kepada Allah. Sesungguhnya manusia cenderung mencintai mereka yang mencintai dirinya, cenderung menyukai yang berbuat baik kepada dirinya dan memuliakan mereka yang mulia.

Wallahu a’lam bishawab


Penulis adalah kolumnis Majalah Suara Hidayatullah

Selasa, 21 September 2010

bahaya

Bahaya minuman bersoda
Membahayakan Ginjal
Amerika Serikat melakukan penelitian mengenai bahaya tersebut terhadap 3256. Mereka rutin mengkonsumsi minuman bersoda minimal 2 kali sehari. Hasilnya, sebanyak 30% responden mengalami kerusakan ginjal dan penurunan fungsinya.
Menurut para ahli, hal ini terkait dengan kandungan minuman bersoda, yakni pemanis buatan, pewarna buatan, kafein, dan asam fosfat.
Meningkatkan Risiko Diabetes
Para penderita penyakit diabetes sangat dilarang untuk mengkonsumsi gula. Hal ini karena hormon insulin yang ada di dalam tubuhnya tidak cukup, bahkan tidak sanggup untuk mengubah zat gula tersebut menjadi gula otot (glikogen). Akibatnya, gula darah (glukosa) akan meningkat dan membahayakan.
Ingat, diabetes juga merupakan salah satu penyakit yang bisa memicu penyakit yang lain, misalnya stroke dan kerusakan jantung koroner. Jika Anda banyak mengkonsumsi minuman bersoda, selain berpotensi menyebabkan diabetes, stroke dan kerusakan jantung korone juga bisa terjadi. Perlu dicatat bahwa penyakit diabetes timbul tak hanya karena faktor keturunan. Orang yang asalnya normal pun bisa menderita penyakit diabetes.
Meningkatkan Risiko Obesitas
Minuman bersoda kaya akan kalori. Kalori yang masuk ke dalam tubuh bisa meningkatkan risiko obesitas. Tak hanya bagi orang yang sudah dewasa, anak-anak bisa menderita obesitas.
Di Amerika Serikat, tingkat obesitas pada anak-anak sangatlah tinggi. Salah satu penyebabnya adalah minuman bersoda. Anak-anak di Amerika Serikat mengkonsumsi minuman bersoda layaknya meminum air putih. Setelah makan, mereka pasti minum minuman bersoda. Hasilnya, mereka banyak yang menderita obesitas.
Ingat, obesitas merupakan salah satu pemicu dari munculnya penyakit-penyakit lain. Di antaranya diabetes, stroke, kerusakan jantung koroner, dan berbagai penyakit serius lainnya.
Meningkatkan Risiko Tulang Rapuh
Salah satu kandungan minuman bersoda adalah asam fosfat. Dalam suatu penelititan, asam fosfat ini bisa menyebabkan penyakit kerapuhan tulang. Hal ini karena asam fosfat bisa melarutkan kalsium yang ada di dalam tulang. Akibatnya, tulang menjadi rapuh dan keropos.
Universitas Harvard pernah membuat penelitian mengenai hal ini. Mereka mengamati seorang atlet remaja pengonsumsi minuman bersoda dan yang tidak mengkonsumsi minuman bersoda. Hasilnya, atlet remaja pengonsumsi minuman bersoda mengalami patah tulang 5 kali lebih banyak daripada atlet remaja yang tidak mengkonsumsi minuma bersoda.
Meningkatkan Risiko Kanker Pankreas
Dalam suatu penelitian di Amerika Serikat, kandungan minuman bersoda dipercaya sebagai salah satu pemicu timbulnya kanker pankreas. Dalam penelitian tersebut, 87% responden yang minimal mengkonsumsi minuman bersoda 2 kali sehari mengalami peningkatan risiko kanker pankreas.
Penelitian dilakukan terhadap 60524 responden (pengonsumsi minuman bersoda) selama 14 tahun. Hasilnya, sebanyak 87% mengalami risiko kanker pankreas yang terlihat melalui gejala-gejalanya.
Meningkatkan Kerusakan pada Gigi
Dalam suatu penelitian, 3200 orang responden mengalami kerusakan gigi akibat mengkonsumsi minuman bersoda. Hal ini tentu saja akibat kandungan zat gula yang ada di dalam minuman tersebut. Tak hanya itu, asam fosfat juga turut memperburuk kerusakan gigi dengan cara melarutkan kalsium gigi.
Meningkatkan Ketergantungan pada Kafein
Minuman bersoda mengandung kafein. Zat ini sejak dulu dikenal sebagai zat yang mampu membuat orang ketergantungan. Meskipun kafein mempunyai efek positif terhadap tubuh, efek negatif kafein ternyata lebih banyak. Misalnya, membuat jantung berdebar, insomnia, tekanan darah rendah, dan lain-lain.
Setelah menyimak bahaya-bahaya minuman bersoda tersebut, ada baiknya Anda segera mengganti menu minuman bersoda dengan minuman lain yang bermanfaat bagi kesehatan. Misalnya, susu sapi, susu kedelai, air putih, teh hijau, teh hitam, jus buah-buahan, atau yoghurt. Dengan begitu, Anda akan terhindar dari risiko penyakit-penyakit serius yang mengancam tubuh.

perubahan


kilas balik hidup berliku sangat wajar apaila kita sudah berikrar bahwa intens kita pada masalah yang pelik sekalipun untuk berupaya memecahkan smampunya ,ok semua memang sudah ada takdirnya masing2 bukan
,terlebih semunya adalah fitnah,ujian bagi kita semua.
kunjungi www.bee4all.com
www.bagiilmu.com
krm email ke wlestiono@gmail.comwww.zinteku.blogspot.com
semoga tiada hal menguji kita di luar kemampuan  yang kita mampu,doa harapan serta ihtiar tawakal menjadi tumpuan sandaran kita selamanya bukan.
growth up self,bee valuable kaffah

faithfull


Keyakinan Multistandar dan Problematika Pemikiran Islam Liberal

E-mail Print PDF
Proyek liberalisme agama membunuh pengaruh agama di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara

Oleh: Zarnuzi Ghufron*

Di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang diisi dengan kemajemukan, di antaranya akan berwujud kemajemukan beragama dan berkeyakinan. Kita sebagai warga negara memang dituntut untuk dapat menghargai perbedaan tersebut. Akan tetapi, untuk menghargai sebuah perbedaan kita tidak harus membenarkan semua perbedaan yang ada, jika hal itu memang bertentangan dengan standar (mi'yar) keyakinan yang kita miliki.

Sebuah keyakinan adalah ibarat sebuah takaran. Apabila dilihat dari sisi hubungannya dengan yang lain, memiliki dua fungsi. Pertama, fungsi  ke dalam adalah untuk menjadi identitas bagi keyakinan itu sendiri. Dan kedua, fungsi ke luar adalah untuk menjadi alat pembeda dengan keyakinan yang lain.

Seperti keyakinan umat Islam tentang Tuhan. Menurut umat Islam, keyakinan yang benar adalah Tuhan itu hanya satu. Berarti hal ini berbeda dengan keyakinan yang lain yang menyatakan bahwa Tuhan itu terbagi tiga atau lebih. Dan adapun untuk menghargai perbedaan tersebut adalah tak lebih hanyalah bagaimana sikap kita ketika  menyikapi perbedaan tersebut, yaitu dengan sikap bijaksana, bukan dengan mengubah apa yang ada di dada kita. Karena untuk mengormati pendapat orang lain, kita tidak harus menyetujui pendapatnya, atau dengan kata lain kita  bisa menghormati orang lain walaupun kita tidak menyetujui pendapatnya. Karena memang tidak ada korelasi mengikat (talazum) antara menghormati dan membenarkan.

Untuk menilai benar tidaknya sesuatu, kita punya takaran sendiri. Begitupun untuk menghormati pendapat yang lain, kita punya pertimbangan sendiri.

Akhir-akhir ini, tidak sedikit  kita temukan orang yang  mengajak  untuk membenarkan semua perbedaan keyakinan dengan atas nama menghargai perbedaan, dan mereka tahu bahwa keyakinan-keyakinan tersebut sebenarnya saling kontradiksi sehingga tidak mungkin bisa benar secara bersamaan. Jika kita pelajari, cara seperti ini  sebenarnya malah bertentangan dengan tujuan mereka  sendiri. Karena dengan membenarkan semua keyakinan yang saling bebeda-beda dan kontradiksi tersebut, hal ini malah menghilangkan perbedaan yang ada, karena semua keyakinan telah mereka  leburkan menjadi satu, yaitu sama-sama  meyakini semuanya benar.

Jika semua telah sama, lalu perbedaan apa yang harus mereka hargai,  jika perbedaannya sudah tidak ada? Selain  keyakinan  tersebut lebur menjadi satu, keyakinan tersebut menjadi sama-sama tidak jelas dan kabur,  kerena batasan-batasan antarkeyakinan  sudah tidak jelas, dan akal siapapun tidak ada yang mampu menyatukan sebuah kontradiksi untuk dikatakan semuanya benar secara bersamaan.

Dengan meyakini  ragam standar keyakinan, hal ini pada akhirnya hanya akan memunculkan sebuah keyakinan baru, yaitu keyakinan multistandar. Yaitu sebuah keyakinan yang memiliki banyak standar dalam menilai sebuah masalah.

Keyakinan multistandar memaksa seseorang untuk meyakini sesuatu hal yang sebenarnya bertentangan dengan keyakinannya yang awal, karena banyaknya standar penilaian yang dia miliki, walaupun akhirnya memberi hasil yang saling kontradiktif. Dan akhirnya, keyakinan ini akan menciptakan sikap inkonsisten bagi penganut keyakinan tersebut di dalam beragama dan berkeyakinan.

Hal ini wajar, karena setiap orang yang memiliki cara penilaian dobelstandar, lebih-lebih multistandar  – di dalam masalah apapun – pasti orangnya tidak konsisten dalam menilai  masalah tersebut. Karena  standar penilaian mereka sendiri beragam dan kadang penuh kontradiksi.

Gaya berpikir multistandar,  untuk saat ini, dapat kita temukan dalam cara berfikir penganut  faham pluralisme agama (faham yang dianut kaum Islam Liberal), yang menyatakan bahwa semua agama dan keyakinan adalah benar.

Walaupun mereka awalnya telah beragama, tapi mereka tidak ada yang konsisten dengan ajaran agamanya sendiri. Agama tidak mampu mengarahkan kehidupan mereka, tapi malah sebaliknya, agama malah yang mereka arahkan agar sesuai dengan pemikiran mereka, dengan berpindah dari standar ke standar yang lain dalam rangka menyesuaikan keinginan mereka. Walaupun standar yang mereka pakai harus diambil dari agama  lain dan kadang bertentangan dengan agama mereka sendiri.

Dogma-Dogma Kebenaran  

Adanya kontradiksi antarkeyakinan sebenarnya telah disadari oleh penganut faham multistandar. Oleh karena itu, mereka mencoba mengeluarkan dogma-dogma tentang kebenaran, sebagai upaya pelarian mereka dari ketidaksanggupan mereka untuk  menjelaskan secara rasional bahwa kontradiksi tersebut bisa benar secara bersamaan.

Tetapi, di sisi lain mereka tetap ingin membenarkan semua keyakinan tersebut. Dogma-dogma yang sekarang telah mereka keluarkan adalah: "kebenaran itu relatif", "tentang kebenaran yang tahu hanya Tuhan", dan yang terakhir  adalah "kebenaran itu banyak, karena semua punya takaran sendiri-sendiri".

Pertama, mereka mengatakan  kebenaran adalah relatif, karena mereka tak ingin setiap umat beragama memastikan bahwa keyakinan agamanya  adalah yang paling benar dan yang lain salah,  sehingga jika  mereka menemukan kontradiksi di antara dua keyakinan maka mereka tidak mau memberi keputusan, walau untuk diri sendiri, mana yang benar dan mana yang salah di antara dua keyakinan tersebut, karena keduanya telah sama-sama direlatifkan.

Kedua, mereka mengatakan soal kebenaran yang tahu hanya Tuhan. Tujuan mereka tak jauh beda dengan tujuan mereka ketika mereka mengeluarkan dogma kebenaran adalah relatif, yaitu umat beragama, menurut mereka, sama-sama tidak punya hak untuk memastikan mana yang paling benar dan mana yang salah.

Dan ketiga, ada seorang pemikir Islam Liberal meyatakan bahwa kebenaran itu banyak, sehingga menurutnya, setiap kebenaran punya takaran sendiri-sendiri. Jika kita pelajari, dogma  baru mereka ini keluar  tak lain halnya adalah juga sebagai upaya pelarian mereka dari relitas kontradiksi yang ada di antara berbagai keyakinan dengan cara membenarkan semua keyakinan tersebut. Selain itu, agar kita umat Islam melupakan  realitas keberagaman kondisi kitab suci umat beragama, yang dalam hal ini sebagai sumber  takaran kebenaran setiap keyakinan; ada yang sudah tidak asli lagi, ada yang hasil olah tangan manusia,  dan  ada yang masih asli dari Rasul. Selain itu, agar kita juga tidak membeda-bedakan antara keyakinan hasil spekulasi filosofis  manusia dengan keyakinan yang bersumber dari wahyu Tuhan.

Pernyataan kebenaran adalah banyak, karena setiap kebenaran mempunyai takaran sendiri-sendiri adalah pernyataan problematik. Apakah hanya dengan mempunyai takaran maka setiap orang yang mendakwakan kebenaran maka akan dengan sendirinya diterima sebagai sebuah kebenaran? Dan tidak berusaha berfikir kritis bahwa kemungkinan malah takarannya yang salah atau bermasalah, yang akhirnya berkonsekuensi pada hasil takarannya yang ikut menjadi salah.

Oleh karena itu, kesalahan pada takaran malah lebih berbahaya karena bisa membawa pada kesalahan yang lebih luas. Jika kaum Islam Liberal tetap memaksakan diri untuk membenarkan setiap takaran kebenaran, tanpa mau berpikir kritis, maka anak kecil yang belum sekolah dan mengaji dan berkata tentang kebenaran, maka mau-tak mau harus mereka benarkan. Karena anak kecil pun punya

korelasi

Korelasi Pluralisme Agama dan Liberalisme Agama

Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa faham multistandar atau pluralisme agama dapat mempengaruhi sikap para pemeluk agama, yaitu membentuk sikap tidak inkonsisten dalam beragama dan berkeyakinan. Faham ini akan membantu proses liberalisasi agama di Indonesia, karena proyek liberalisme agama adalah membunuh pengaruh agama di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara atau di wilayah publik. Sedangkan pluralisme agama bertugas menanamkan sikap ragu (skeptis) serta menciptakan sikap inkonsisten  umat beragama dalam menjalankan agamanya.

Jika sikap inkonsisten tersebut sudah terwujud dalam diri umat beragama, maka akan sangat mudah mengajak mereka untuk meninggalkan ajaran-ajaran agama. Dengan cara ini, proyek liberalisme agama di Indonesia bisa terwujud. Oleh kerena itu, para pengusung faham liberal adalah juga pengusung faham pluralisme agama.

Dengan ini, dapat kita ketahui bahwa  pluralisme agama bukan hanya sekedar faham, tapi juga sebuah strategi dan siasat untuk mewujudkan  liberalisasi dan sekulerisasi kehidupan umat beragama. Begitupun juga dogma-dogma kaum liberalis bukan murni kerja pikiran, tapi juga sebuah strategi untuk menciptakan pengaruh terhadap pemikiran-pemikiran mereka yang lain.

Jika proyek tersebut telah berhasil, maka kedudukan “nabi-nabi” umat beragama akan digantikan oleh para pemikir liberal dan “kitab-kitab suci”  akan digantikan dengan buku-buku dan artikel para pemikir liberal, walaupun tidak disakralkan, tapi diikuti. Wallahu a'lam bisshowab.

Penulis adalah mahasiswa tingkat IV Fakultas Syari'ah wa Qonun Univesitas al-Ahgaff, Hadramaut, Yaman